Syekh Dwipa adalah murid dari Sunan Gunugjati (Syekh Syarif Hidayatulloh) Cirebon, Syekh Dwipa tersebut pergi kesebelah selatan utuk menyebarkan agama Islam di daerah cirebon selatan, pada tahun 1498 masehi, Tiba lah disebuah dusun sebelah timur Pasir Bentang Dia datang dan menetap di dusun tersebut setelah menetap di sana dan merasa cukup betah di dusun tersebut kemudian beliau mendirikan sebuah padepokan di dusun tersebut dan memiliki murid empat murid 1. Lanang sajati dan Istrinya nyani Beunteur Milanda sari 3. Kasim 4. Angka wijaya dan adiknya Mataram dalam menyebarkan Islam di wilayah tersebut Syekh Dwipa mempunyai sebuah gageman yaitu Congkrang.Karena sudah cukup ajaran beliau di sampaikan kepada murid-muridnya maka beliau mengucapka kepada murid-muridnya “wahai anak-anakku kafah sudah semua ilmu kuajarkan pada kalian maka kalian akan kutugaskan untuk meyebarka Agama islam diwilayah ini” Mendengar ucapan gurunya Mereka siap dan mengangap sudah cukup dan siap mengamalkan ilmunya.dan Lanang sajati mengajukan pemberian nama dusun tersebut mengambil dari ucapan gurunya yang mengucap Kafah artinya sempurna atau cukup kata kafah adalah bahasa arab maka kata kafah dipadukan antara jawa dan arab menjadi KOPO maka dusun tersebut dinamai dusun KOPO
Ajaran terebut kepada murid yang bernama Lanang sajati dan Istrinya nyani Beunteur Milanda sari ajaranya melambangkan kesejatian hidup atau kebijaksanaan hidup,Maka murid tersebut diberi gelar Buyut Lalanang sajati yang di tempatkan diwilayah dusun cang kudulang disebut juga Birit Dayeuh, dan diwilayah tesebut dilarang menyebut nama ikan beunteur dengan nama lain yaitu ikan (bodasan).
Aadapun murid yang bernama Kasim diberikan ajaran tata cara mengurus binatang peliharaan terutama kerbau karena diwilayah tersebut banyak yang memelihara kerbau, Kasim diberi gelar Buyut kasim yang tinggal di blok kosambi yang berdekatan dengan dusun Cangkudu Lanang.
Kepada Angka Wijaya dan adiknya Mataram diberikan ilmu kedijayaan dan kekayaan yang bertempat di Blok Pasir Toya,disebelah Timur Dusun Kopo
Sehubungan sudah berkembang dan menyebarnya penduduk diwilayah tersebut maka syekh Dwiva memanggil murid-muridnya untuk musyawarah menamai dusun-dusun menjadi Desa, pada saat mereka bermusyawarah ada seorang putri yang lari ketakutan dan lari putri tersebut kesebelah timur dusun Kopo dan oleh nyai milandasari putri tersebut ditanya asalnya putri tersebut putri tersebut adalah berasal dari kerajaan Timbang luhur yang melarikan diri dari kerajaannya karena beliau dijodohkan dengan seorang lelaki yang tidak ia sukai, kemudian putri tersebut di suruh bersembunyi oleh nyai milandasari di sebuah lubang dibawah batu di Blok Cikacepet.
Tiba-tiba datang serombongan prajurit yang mencari dan mengejar putri tersebut dan mereka mencari putri tersebut sampai bolak balik dari barat ketimur terus berulang akhirnya mereka berhaenti di dekat padepokan Syekh Dwipa akhirnya mereka merasa putus asa dan seorang pimpinan mereka bertanya kepada anak buahnya dengan memakai bahasa Cirebon “Priben putria ana bli” Embuh Jawabnya ahirnya pemimpin nya menyuruh lagi anak buahnya untuk mencari putri tersebut namun jawaban nya ’’aja” Akhirnya pimpinan prajuritpun marah sambil ngomong “ya wis ari sira ngomonge aja mbuh baemah ya gelisbae yu” mendengar obrolan tersebut akhirnya Syekh Dwipa mengambil kesimpulan dri bahasa tersebut “AJA MBUH GELISBAE” Jadi nama desa tersebut JAMBUGELIS Sebab kata GELIS bahasa Jawa dirubah menjadi bahasa Sunda dan Dirubah Menjadi GEULIS Jadi Desa tersebut namanya JAMBUGEULIS.Dan Syekh Dwipa diangkat oleh anak muridnya menjadi seorang KUWU pada tahun 1526. Setelah beliau semakin tua usianya,Beliau menunjuk muridnya yang bernama Milandasari yang ditinggal wafat suaminya untuk menjadi Kepala Desa (KUWU) dan Nyai Milandasari menerima tawaran sang guru. nama Desa JAMBUGEULIS yang berdiri pada tahun 1528 masehi,Kepemimpinan Nyai Kuwu Milandasari dari tahun 1438 dan nyai Kuwu Milandasari wafat pada tahun 1547 masehi dan kepemimpinannya digantikan oleh Putranya Sekh Angka Wijaya Yang bernama Sekh Mahesa Tunggal yang memimpin Desa Jambugeulis sejak tahun 1549 -1617 masehi dimasa kepemimpinannya terjadi Penjajahan Belanda Pada tahun 1595 Pada masa kepemimpinan Kuwu Mahesa Tunggal, Petilasanya Syekh Dwiva di abadikan oleh Masyarakat Desa Jambugeulis dan diberi nama PETILASAN EMBAH SANG KUWU DWIVA JAMBU Gelar Tersebut dikarenakan Syekh Dwiva adalah orang yang mengangkat dan menunjuknya menjadi sang kuwu pertama di Desa Jambu dan desa Jambugeulis dibumi hanguskan karena Desa Jambugeulis selalu jadi markas para pejuang yang melawan Penjajah. dan salah satu tempat masyarakat Jambugeulis bersembunyi supaya aman dari penjajah Belanda adalah di Patilasan Embah Sangkuwu Dwiva. Kuwu Mahesa Tunggal Wafat pada tahun 1617 masehi dan Jambugeulis tidak memiliki Kuwu selama dijajah oleh belanda.baru pada tahun 1900 ada kuwu yang bernama Rengga beliau menjadi Kuwu dari tahun 1990 - 1920 masehi dan digantikan oleh Maijan dari tahun 1920-1940 masehi setelah Kuwu Maijan Wafat digantikan oleh bapa Jaka Merta Atmaja yaitu tahun 1940-1960 dan digantikan oleh Kuwu Jenal Tahun 1960-1970 selanjutnya diganti oleh Kuwu Buchari Tahun 1970-1982 Kuwu selanjutnya Kuwu Tjasmita 1984-1994 Kuwu Tjasmita diganti oleh Engkos Sukma Sungkawa pada Tahun 1998-2007 berikutnya Kuwu atau istilah lain Kepala Desa Oding Suyatman tahun 2008-2011 digantikan oleh Kuwu/Kepala Desa Saripin Tahun 2012-2018 digantikan lagi oleh Kepala Desa Engkos Sukma Sungkawa mulai Tahun 2019 sampai dengan sekarang
|
No |
Nama |
Priode |
Ket |
|
1 |
Rengga |
1900-1920 |
|
|
2 |
Maijan |
1920-1940 |
|
|
3 |
Jaka Merta Atmaja |
1940-1960 |
|
|
4 |
Jaenal |
1960-1970 |
|
|
5 |
Buchari |
1970-1982 |
|
|
6 |
Tjasmita |
1984-1994 |
|
|
7 |
E.S Sungkawa |
1998-2007 |
|
|
8 |
Oding Suyatman |
2008-2011 |
|
|
9 |
Saripin |
2012-2018 |
|
|
10 |
E.S Sungkawa |
2019 |
|
Masukan konten sejarah disini


